Selasa, 04 September 2012

MY PROFILE

hy guys nama aku FENDRA REZKY FRISKY , aku bersekolah di senior high school 7 . aku sangat hobi bermain music bagiku music adalah segalanya . music juga menuntunku untuk memilih jalan yang terbaik dalam hidup . still continue to uphold the spirit andsportsmanship

kisahkudi bulan ramdhan indah

selama di bulan ramadhan keindahan yang di rasa di bulan suci ini, keberkahan yang selalu ku dapat , kebahagiaan yang ku dapat tapii.. hanya satu yang kurang aku rasa perkumpulan keluarga yang gak lengkap . 7 tahun berlalu aku menjalankan ibadah ramadhan tanpa seorang ayah, yang dimana kebahagiaanku sempurna hnya ingin bersama papa, sedih hati pasti terasa , tapi semua itu sudah kehendak allah yang kuasa , harus kujalani hidup ini dengan tulus hati dan berbesar hati


Sabtu, 01 September 2012

Sudah Indahkah Pergaulan Anda ?

Kalam Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi
images 120x120 Sudah Indahkah Pergaulan Anda ? Akhir-akhir ini pergaulan yang salah disinyalir sebagai faktor utama penyebab meningkatnya tindak kriminalitas dan kerusakan moral di tengah-tengah masyarakat. Maka tidak ada salahnya apabila kita menyimak analisa Habib Idrus bin Umar Alhabsyi mengenai pengaruh pergaulan terhadap baik  buruknya kepribadian seseorang berikut:
‘Sesungguhnya pergaulan keseharian memberikan dampak yang signifikan dalam perkembangan kepribadian seseorang. Entah dampak yang positif ataupun yang negatif. Seseorang yang senantiasa bergaul dengan orang-orang baik, maka lambat laun kepribadiannya akan menjadi baik. Demikian sebaliknya, seseorang yang senantiasa bergaul dengan orang-orang berakhlak buruk, keji dan fasik, maka kepribadiannya menjadi buruk dan lacur. Namun terkadang perubahan kepribadian sebagai dampak dari pergaulan tidaklah spontanitas, akan tetapi melalui proses yang lama dan berkesinambungan sehingga sering kali tidak dirasakan oleh yang bersangkutan.
Bergaul dengan orang-orang baik dan soleh,  akan tertanam di hati kita cinta kepada kebaikan dan tumbuh semangat untuk berbuat baik seperti mereka. Adapun apabila kita bergaul dengan orang-orang fasik, maka gemar berbuat fasik dan lacurlah yang akan tertanam dalam hati kita. Maka dapat disimpulkan, bahwa kepribadian seseorang terprogram secara otomatis sesuai karakter lingkungan pergaulan.

Dampak Pergaulan Dengan Orang Baik

Dalam kitab ‘Awarif, syeikh Umar Syahrawardi berkata, “Pergaulan dengan orang-orang baik memberikan dampak positif yang luar biasa. Sedangkan rasa cinta dan sayang akan memperkokoh pergaulan tersebut.” Seorang ahli hikmah berpendapat bahwa apabila seseorang bertemu sahabatnya, maka terjadi pembauran karakter diantara keduannya. Mereka saling mengisi dan memperkuat kepribadian masing-masing.
Ada sebuah kaidah klasik berbunyi. “Pandangan kepada sesuatu akan mempengaruhi perilaku pihak yang memandang sehingga selaras dengan perilaku pihak yang dipandang”. Seperti apabila kita melihat sesuatu yang mengharukan, maka hati kita terbawa rasa haru lalu menjadi sedih. Demikian juga apabila kita melihat sesuatu yang menggembirakan, maka di hati kita akan muncul rasa senang dan gembira.
Seekor unta liar yang tak dapat dikendalikan akan menjadi patuh dan terkendali apabila dikumpulkan dengan unta-unta yang telah jinak. Bahkan hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan dan udara sekalipun berevolusi baik secara fisik maupun karakter sesuai kondisi lingkungan masing-masing.
Rasulullah SAW bersabda, ”Agama seseorang tergantung agama orang yang dicintainya (sahabatnya).” Sebuah kalam bijak menyebutkan bahwa seseorang yang suka bergaul dan berteman dengan orang yang baik, maka akan dijadikan oleh Allah sebagai orang baik sekalipun sebelumnya ia adalah orang jahat. Dan seseorang yang suka bergaul dengan orang fasik, maka ia akan dijadikan sebagai orang yang fasik dan jahat sekalipun sebelumnya ia adalah orang yang baik.
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah SAW ditanya salah satu sahabat,” Wahai Rasulullah! Ada seorang laki-laki mencintai suatu kaum, namun ia bukan termasuk kaum tersebut.” Rasulullah SAW dengan bijak menjawab,” Kamu kelak dikumpulkan bersama orang yang kamu cintai.”
“Quthbul Irsyad” Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad berkata, “Barang siapa senantiasa duduk bersama dan berkumpul dengan para ulama besar didasari rasa cinta kepada mereka dan keinginan meneladani budi pekerti dan perilaku mereka yang cenderung mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjauhi kemewahan dunia atau sekedar mengharapkan keberkahan dan doa-doa mereka tanpa adanya niatan untuk meniru perilaku mereka, maka ia akan mendapatkan kebaikan dan berkah yang melimpah.
Seperti tersebut dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, ”Merekalah (para ulama besar) segolongan orang yang takkan celaka orang-orang yang duduk berkumpul bersama mereka.” Hanya saja, kebaikan dan keberkahan mereka takkan didapatkan orang-orang yang berkumpul dengan mereka dengan niatan agar ia dikenal orang sebagai orang baik karena sering berkumpul dengan para ulama dan orang soleh, sedangkan ia sendiri sebenarnya adalah orang yang keji dan dhalim.”
Seorang ulama besar tempo dulu pernah berkata,” Sesungguhnya prasangka buruk dan rasa cinta yang murni akan menyatukan orang-orang awam bersama para ulama besar.  Dan tidak ada ibadah selain fardlu yang dilaksanakan seorang hamba yang lebih utama dari rasa cinta kepada para wali Allah, karena cinta kepada wali Allah adalah pertanda cintanya kepada Allah.”

Dasar Pergaulan Murid Kepada Guru Adalah Cinta Murni

Terkadang seorang murid mendapatkan keberkahan dan manfaat yang melimpah dari guru-gurunya sekalipun ia tak mengenal bahkan tak pernah melihat mereka. Hal tersebut dikarenakan rasa cinta yang menggelora, keterikatan yang kuat dan prasangka baik kepada mereka. Sayid Ali bin Abubakar Baalawi berkata,”Seorang murid akan mendapatkan manfaat dari guru-gurunya sekalipun mereka telah meninggal jika ikatan antara murid dan guru sangat kuat di dasari rasa cinta yang murni kepada mereka.”
Al Imam Ali bin Abubakar As-Sakran berkata,”Para ulama tasawuf sejati yang ikhlas kepada Allah dalam setiap amal perbuatanya dan senantiasa berusaha menyempurnakan diri dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW adalah para wali pembawa cahaya dan rahasia-rahasia Allah sekaligus sebagai kholifah di muka bumi. Maka beruntunglah orang-orang yang mencintai mereka, mendapatkan berkah mereka dan memperoleh doa kebaikan dari mereka. Apalagi orang-orang yang berusaha berhidmat dan menjadi murid yang senantiasa menerima dan melaksanakan nasehat-nasehat mereka. Padahal, dengan memandang wajah mereka saja, rahmat dan keberkahan akan didapatkan.”
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba, barang siapa memandang salah satu diantara mereka, maka niscaya ia beruntung dan takkan celaka selamanya.” Sedangkan Syeikh Abubakar bin Salim pernah berkata,”Demikian jika kita memandang salah satu diantara hamba-hamba pilihan Allah tersebut. Adapun pandangan mereka kepada kita, maka itu akan menyampaikan kita kepada derajat yang sangat mulia di sisi-Nya.” Walhasil, dengan mendekati ulama, hidup akan menjadi penuh berkah”.

AIDS, Narkoba dan Pergaulan Bebas




Rekan setia, seperti kita ketahui bersama bahwa 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Data-data terakhir yang muncul mengenai perkembangan penderita HIV maupun AIDS  di dunia sangat menyentak kita. Lebih menyentak lagi memperhatikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang perkembangannya sangat cepat dalam beberapa dasawarsa terakhir ini. Hal ini merupakan momok dan harus ditangani secara serius. 
NN: Dokter, sebelum kita masuk lebih jauh dalam substansi, bisa Dokter jelaskan mengenai fenomena pergaulan bebas, narkoba, serta AIDS itu sendiri dari sudut pandang medis?  
Dr.Soares: Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain, dan hubungan antar manusia dibina melalui suatu pergaulan (interpersonal relationship).Pergaulan juga adalah HAM setiap individu dan itu harus dibebaskan, sehingga setiap manusia tidak tidak boleh dibatasi dalam pergaulan, apalagi dengan melakukan diskrriminasi, sebab hal itu melanggar HAM. Jadi pergaulan antar manusia harusnya bebas, tetapi tetap mematuhi norma hukum, norma agama, norma budaya, serta norma bermsayarakat. Jadi, kalau secara medis kalau pergaulan bebas namun teratur atau terbatasi aturan-aturan dan norma-norma hidup manusia tentunya tidak akan menimbulkan ekses-ekses seperti saat ini. Begitupun dengan narkoba, narkotika dan obat-obatan berbahaya adalah suatu kemajuan dalam bidang medis yang dicapai oleh manusia yang ditujukan untuk membantu manusia dalam aspek medis. Jadi jika narkoba dipakai diluar aspek medis, itu adalah suatu pelanggaran hukum atau norma yang sebenarnya.  
NN: Apa bedanya HIV dengan AIDS?
Dr.Soares:
AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome atau kumpulan gejala atau sindroma akibat dari kekurangan sistem kekebalan tubuh. Sedangkan HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, jadi HIV adalah virus yang menginfeksi manusia dan menyebabkan AIDS. Jadi AIDS merupakan suatu fase dari infeksi HIV. 
Theo: Baik, kembali ke fenomena perkembangan jumlah penderita Dok. Sejauh ini berapa banyak penderita HIV dan AIDS di Indonesia saat ini, bagaimana di Kalimantan Timur khususnya Kota Balikpapan?
Dr.Soares: Bicara mengenai jumlah penderita AIDS atau HIV positif adalah suatu hal yang gampang-gampang susah, tetapi yang pasti dari awal tahun 2000 an angkanya meningkat dengan drastis. Diperkirakan oleh Departemen Kesehatan penderita HIV-AIDS di Indonesia antara 80.000 – 120.000 orang, di Kalimantan Timur tahun 2005 jumlah penderitanya sekitar 56 orang, dan separuhnya di Balikpapan.
NN2: Dari jumlah tersebut, apakah dapat diidentifikasi kategorisasinya, misalnya dari segi umur, jenis pekerjaan, cara terinfeksi, dan kategori lain?
Dr.Soares: Penderita HIV-AIDS secara nasional memiliki pola dimana lelaki lebih banyak menderita penyakit ini dibandingkan dengan perempuan. Di Jakarta, penularannya lebih banyak dikalangan pengguna narkoba jenis suntikan, tetapi di Papua, penularannya lebih banyak melalui aktivitas seksual bebas. Secara nasional penularannya melalui hubungan seks dan penggunaan jarum suntik dikalangan pengguna narkoba, sedangkan melalui transfusi darah masih belum terdeteksi. Usia penderita kebanyakan berkisar antara 20 – 30 tahun, jadi dewasa muda.
NN: Baik, masih menyambung pertanyaan sebelumnya sebelum beralih ke Frater Koppong. Baik Dokter, dari sudut pandang orang awam dan medis,  apakah ada dampak positif dari suatu pergaulan bebas?
Dr.Soares: Kembali lagi, kalau kita berpegang pada hakikat pergaulan yang sesungguhnya, tentunya pergaulan bebas itu ada dampak positifnya bila mengikuti rambu-rambu norma hukum, agama, budaya dan masyarakat, yang dianut oleh setiap kelompok masyarakat. Dengan bergaul secara bebas tapi taat norma, setiap individu dapat belajar untuk mandiri, mengetahui kelebihan dan kekurangan, mendewasakan secara psikis, mental dan masih banyak lagi manfaat positif lainnya.
NN: Frater, bagaimana sih gereja memandang pergaulan bebas dan narkoba serta AIDS ini?
Frater: Untuk memperjelas masalah pergaulan bebas, kita perlu melihat per kasus dan dampaknya bagi perkembangan hidup kaum muda itu sendiri. Kalau pergaulan bebas menyangkut masalah free seks dan pada akhirnya mengarah pada tindak kejahatan yang lain seperti Narkoba, HIV-AIDS, miras dan lainnya; maka Gereja memandang hal itu sebagai sebuah tindakan immoral yang merupakan dampak dari berbagai krisis sosial ekonomi yang dialami bangsa. Mengapa di sebut sebagai tindakan immoral, karena kapasitasnya sebagai manusia utuh dan yang bermartabat (dalam hal ini sebagai Kaum Muda yang adalah Genereasi penerus bangsa dan Gereja) direndahkan bahkan dilecehkan dengan tindakan atau sikapnya yang melanggar norma moral dan iman. Untuk AIDS sendiri, Gereja memandangnya sebagai masalah yang mengancam segala aspek kehidupan baik individu maupun sebagai anggota manusia sedunia. Bagi Gereja AIDS bukanlah masalah kesehatan semata, melainkan juga masalah moral, hubungan sosial, ekonomi, etika, hukum dan lain-lain. Gereja memandang bahwa HIV-AIDS dan Narkoba merupakan kejahatan sosial baru yang merupakan dampak dari situasi bangsa yang berada dalam lingkaran kemiskinan. Singkatnya baik free sex, Narkoba dan AIDS merupakan tindakan penyalahgunaan yang bertentangan dengan nilai-nilai iman dan moral.
NN: Bisa mungkin Frater ceritakan, apa saja usaha-usaha yang telah dan/atau akan Gereja Katolik lakukan untuk meminimalisir dan mencegah perkembangan AIDS ini?
Frater : Pertama-tama saya mau mengatakan katakan bahwa Gereja tidak mempunya solusi yang tepat dalam proses pencegahan AIDS (karena AIDS menyangkut banyak aspek), tetapi lebih memberikan anjuran dan pesan moral untuk membuka sebuah cakrawala baru mengenai masalah tersebut bagi pendampingan keluarga, kaum muda semua umat beriman. Usaha-usaha yang telah (menurut pengamatan saya pribadi) Gereja lakukan adalah dengan mendirikan Yayasan Rehabilitasi bagi para pencandu narkoba seperti kalau di Yogyakarta: Yayasan HANA. Mengadakan seminar-seminar seputar HIV-AIDS, NARKOBA dan dampaknya bagi kesehatan dan kehidupan manusia. Langkah yang lainnya adalah mengajak seluruh komponen, terutama keluaraga-keluaraga, kaum muda untuk mampu bertanggung jawab atas perilakunay dan sadar akan martabatnya sebagai ciptaan Tuhan yang sangat dicintai oleh-Nya. Maka dari itu bagi Gereja sebagaimana yang diserukan oleh Paus Yohanes Paulus II, upaya HIV-AIDS senantiasa melalui penyebaran informasi yang lengkap dan berlandaskan pada nilai-nilai positif kepada setiap insan khususnya kaum muda agar dapat terjadi perubahan sikap dan cara hidup yang baru sesuai dengan martabatnya sebagai manusia. Bagi mereka yang tertular AIDS, Gereja juga tidak menutup mata, melainkan mendoakan mereka dan memperhatikan serta merangkul mereka dengan penuh cinta kasih sebagai makhluk yang bermartabat.
NN2: Bagaimana peran keluarga dalam hal ini?
Frater: Yang jelas peran keluarga khususnya orang tua adalah berkewajiban mendidik ana-anak agar mereka berperilaku penuh tanggung jawab, termasuk perilaku seksual. Keluarga-keluarga hendaknya menciptakan suatu lingkungan yang kondusif, harmonis, simpatik dan empathy bagi bertumbuhnya nilai-nilai iman dan moral dalam keluarga. Peranan keluarga yang lainnya adala memberikan informasi yang tepat kepada anak-anak, dan mendidik mereka agar sedini mungkin mampu mengambil keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.
NN: Frater, setelah kita mengetahui fakta-fakta bahwa betapa pesatnya pertumbuhan pengidap HIV dan penderita AIDS dewasa ini dan telah mencapai suatu angka yang sangat mengkhawatirkan dan sebagian besar muncul akibat dari pemakaian narkoba serta pergaulan bebas dalam pengertian sex bebas serta lebih jauh lagi si pengidap sebagian besar merupakan kalangan muda yang produktif dan atau yang diharapkan akan produktif, apa kira-kira yang harus kita sebagai umat Katolik, serta Gereja Katolik harus lakukan pada masa-masa mendatang ini untuk mencegah lajunya perkembangan yang mengkhawatirkan ini Frater?
Frater: Masalah-masalah yang sudah dibahas di atas, sebenarnya merupakan dampak dari berbagai persoalan yang dihadapi (persoalan prbadi, keluarga) yang akhirnya mambawa seseorang pada penyalahgunaan-penyalahgunaan. Di sisi lain baik pergaulan bebas (free sex, narkoba, HIV-AIDS merupakan tawaran yang sudah merupakan satu mata rantai lingkaran setan  yang menggerogoti kehidupan kaum muda pada khsususnya. Untuk itu menurut saya; usaha yang bisa kita lakukan adalah memberikan informasi postitp (tidak menakut-nakuti) yang lengkap mengenai permaslaahan-permasalahan dan dampaknya bagi kehidupan manusia serta memberikan pendampingan (keterlibatan dalam satu organisasi), kunjungan. Pendampingan dan kunjungan ini lebih menyangkut nilai-nilai iman dan moral yang hendak kita sampaikan untuk membuka wawasan bagi mereka agar mampu mengubah cara pandang mereka dan mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab atas tawaran-tawaran di atas.
NN: Kalau dari segi medis, Dokter? 
Dr.Soares: Sebagai seorang dokter dan juga sekaligus Katolik, saya melihat bahwa banyak yang dapat dilakukan oleh Gereja Katolik. Saya pernah membaca kisah hidup Santo Yohanes Bosco, hari rayanya tanggal 31 Januari, dimana beliau berjuang untuk membantu memberdayakan kaum muda di Italia pada masanya dengan menggunakan gereja sebagai pusat doa dan karya bagi kaum muda. Saya dibesarkan secara moral dan spiritual di lingkungan gereja saya, sewaktu saya di Timor Timur, Paroki saya namanya Paroki Santo Antonio Motael – Dili. Setiap Katolik jika mau bercermin pada kaidah-kaidah  atau norma-norma ajaran Katolik dan bertingkah laku menurut aturan itu serta lingkungan Parokinya, saya yakin Gereja Katolik dapat menjawab tantangan pergaulan bebas yang marak dan infeksi HIV-AIDS yang merajalela saat ini.

Kenakalan Remaja dan Peran Orang Tua


Baru-baru ini masyarakat kembali “geger”s dengan beredarnya rekaman video amatir seorang siswi SMU di Pasuruan, Jawa Timur yang sedang melakukan aborsi. Video berdurasi 40-an detik yang diduga direkam melalui handphone itu kontan membuat banyak pihak, khususnya para orang tua “shock”.
Betapa tidak? Seorang gadis muda belia yang terkenal cerdas dan supel bergaul tertangkap basah menggugurkan kandungannya. Bahkan tidak hanya satu-dua orang saja yang mengetahuinya, melainkan jutaan pasang mata telah menyaksikan perbuatan kejinya, melalui media cetak maupun elektronik. Alih-alih malu menanggung aib akibat Kehamilan Tak Diinginkan (KTD), sang gadis nekad melakukan aborsi dan mengundurkan diri dari sekolahnya.
Ironis memang, seorang remaja yang semestinya masih memiliki kesempatan luas untuk mengenyam pendidikan di sekolah, terpaksa harus berhenti di tengah jalan karena salah pergaulan. Kasus yang dialami siswi SMU di Pasuruan itu bisa menjadi bukti bahwa kenakalan remaja tidak hanya didominasi oleh anak-anak yang broken home, tetapi bisa menjebak siapa saja. Pengaruh televisi, internet, dan handphone selama ini disebut-sebut sebagai pemicu maraknya kenakalan remaja.
Namun perlu disadari juga bahwa kenakalan remaja tidak semata-mata karena pengaruh berbagai media tersebut. Ada faktor lain yang juga sangat berpengaruh terhadap perilaku anak, yakni hubungan komunikasi antara anak dan orang tua atau keluarganya. Hubungan ini tidak lepas dari bagaimana pola didik yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya, dan seperti apa komunikasi yang terjalin di antara mereka.
Di zaman sekarang, sebagian besar orang tua cenderung menyerahkan urusan pendidikan anak pada institusi yang dinamai sekolahan. Bahkan dari usia dini pun si anak sudah dipasrahkan pengasuhan dan pendidikannya di play group dan sejenisnya. Tujuannya agar mereka mendapat pendidikan yang lebih baik dan nantinya menjadi anak pintar. Banyak alasan mengapa orang tua sekarang lebih memilih memasukkan anak-anak mereka di institusi pendidikan sejak dini, daripada mendidiknya sendiri di rumah. Di antaranya, alasannya kesibukan orang tua sehingga merasa tak punya cukup waktu untuk mendidik anak di rumah. Namun ada juga yang berpikir praktis, orang tua yang merasa tidak mampu mendidik anaknya sendiri sehingga dipasrahkan pada para tenaga pendidik yang lebih profesional. alasan lainnya, orang tua ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi putra-putrinya.
Alasan-alasan tersebut memang tidak salah, sebab pada hakikatnya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak pandai. Melalui pendidikan di bangku sekolah, para orang tua berharap nantinya putra-putri mereka menjadi anak yang pintar dan sukses. Hanya saja, terkadang para orang tua kurang menyadari bahwa pendidikan di sekolah saja belum cukup untuk menjadikan anak baik, baik secara personal maupun sosial. Selama ini yang terjadi, kenakalan remaja terjadi bukan karena mereka tidak berpindidikan, tetapi lebih karena kurangnya perhatian dan komunikasi dengan orang tua atau keluarganya. Kesibukan orang tua mempersempit ruang komunikasinya dengan anak-anak.
Di samping itu, perhatian terhadap anak juga cenderung diabaikan. “Toh mereka sudah belajar di sekolah, dan kebutuhan mereka juga tercukupi dari hasil kerja orang tua. Perhatian apa lagi?” Padahal anak-anak butuh pendampingan dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapinya. Mereka butuh “ilmu tambahan” dari para orang tua, di luar pelajaran yang diterima di kelasnya. Misalnya, pendidikan budi pekerti, belajar bersosialisasi dengan lingkungan di sekitarnya, belajar memecahkan permasalahan melalui sharring dengan orang-orang terdekatnya, dan masih banyak hal lainnya, yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Kurangnya komunikasi antara anak dan orang tuanya juga sering menimbulkan percikan konflik yang berawal dari kesalahpahaman. Jika sudah demikian, biasanya anak akan mencari ‘sandaran’ pada teman-teman yang dianggapnya bisa menjadi curahan hati, atau pun senasib dengannya. Minimnya pengetahuan anak bagaimana membangun interaksi sosial yang baik sering membuat anak terjerumus dalam pergaulan yang salah. Tak heran jika akhirnya banyak remaja yang menjadi korban salah pergaulan.
Orang Tua selalu Benar?
Di masyarakat kita, kebanyakan orang tua masih menganggap anak yang nakal itu salah, tanpa melihat latar belakang dari kenakalan itu sendiri. Padahal, anak nakal itu umumnya karena mereka butuh perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Dangan kata lain, mereka merasa kurang mendapatkan perhatian. Jadi tidak selalu benar bahwa anak nakal itu salah. Dalam hal ini, orang tua dituntut mampu menangkap “sinyal-sinyal” semacam itu, dengan lebih berperan aktif dalam memerhatikan putra-putrinya.
Mau tidak mau orang tua harus menyadari bahwa kesalahan tidak selalu pada anak, tetapi sedikit banyak juga ada andil dari kesalahan orang tua dalam mendidik mereka. Memberi ruang bagi anak untuk membangun komunikasi yang baik dan intens dengan orang tua, melalui diskusi bersama keluarga dalam hal-hal ‘kecil’ maupun saat menghadapi masalah, bisa menjadi langkah antisipatif untuk menghindari kenakalan temaja. Penanaman sikap “berani berbuat, berani bertanggung jawab” juga akan membuat anak bertindak secara rasional, dan tidak mudah terjebak pada hal-hal yang merugikan dirinya dan orang lain.
Jika memang terlanjur berbuat salah, maka tekankan pada anak untuk bisa belajar dari kesalahannya sehingga ke depannya kesalahan itu tidak terulang lagi. Kita harus ingat bahwa orang yang baik bukan orang yang tidak bersalah, melainkan orang yang berani bertanggung-jawab atas kesalahannya dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

APAKAH WATAK / KARAKTER MANUSIA DAPAT BERUBAH KARNA PERGAULAN ?

Watak seseorang dapat berubah dikarnakan sebuah pergaulan yang terus-menerus dengan pribadi yang sama.
Alkitab menuslikan bahwa pergaulan yang baik atau buruk,s ama-sama dapat merubah waktak manusia, dari yang baik menjadi yang buruk ataupun sebaliknya dari yang buruk menjadi yang baik, tergantung dengan siapa dia berteman/bergaul.
I Korintus 15: 33
Janganlah kamu sesat, pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik
Watak yang baik ——————bisa berubah jadi buruk karena PERGAULAN YANG SALAH
Amsal 13: 20
Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Watak yang bebal——————bisa berubah menjadi watak yang bijak, karena PERGAULAN YANG BAIK
Watak yang bebal —-mendatangkan kemalangan, bukan mendatangkan berkat.
Amsal 27:17
Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
APA PERBEDAAN ORANG BEBAL DAN ORANG ARIF?
Pengetahuan untuk membedakan orang bebal atau orang arif ini penting untuk kita dapat menjadi bijak dalam memilih sahabat/teman hidup/partner kerja/ teman curhat/ asisten/ dll, karna jika kita salah pilih, berbahaya untuk perubahan karakter kita kelak.
Bebal
  1. Iri hati
    Ayub 5:2
  2. Tidak punya rasa takut akan Tuhan, karakternya payah
    Maz 14:1
  3. Tidak bisa mengerti maunya Tuhan
    Maz 92:5-7
  4. Pencemooh, tidak punya kerendahan hati
    Amsal 3:34-35
  5. Kegemarannya berlaku cemar
    Amsal 10:23
  6. Keputusan-keputusannya/ tindakan-tindakannya bodoh
    Amsal 13:16
  7. Bibirnya tidak berpengetahuan, kata-katanya tidak membangun
    Ams 14:7, 15:2
  8. Gagal melihat kelemahannya sendiri
    Ams 14:8
  9. Tidak mau dinasehati/suka mengeluh/tidak puas
    Ams 18:2
  10. Suka debat kusir, mempertahankan kebenaran diri sendiri
    Ams 18:6
  11. Tidak bisa diajak bertukar pikiran
    Ams 26:4
  12. Berpusat pada kebenaran diri sendiri
    Ams 28:26
  13. Tidak punya self control atau pengendalian diri, marah yang tidak terkendali
    Ams 29:11
  14. Tidak tahu mempergunakan waktu yang berharga dengan baik
    Ef 5:15-17
Arif
Efesus 5:15-17
1. memperhatikan bagaimana kita hidup
2. mempergunakan waktu yang ada
3. mengerti kehendak Tuhan
4. penuh dengan Roh, bukan mabuk anggur hawa nafsu
5. berkata-kata dalam mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani
6. bernyanyi dan bersorak dengan segenap hati
7. mengucap syukur
8. rendah hati
9. takut akan Tuhan
zwani.com myspace graphic comments

Pengertian Pergaulan Bebas

A. Pengertian Pergaulan Bebas
Kita tentu tahu bahwa pergaulan bebas itu adalah salah satu bentuk perilaku menyimpang, yang m
ana “bebas” yang dimaksud adalah melewati batas-batas norma ketimuran yang ada. Masalah pergaulan bebas ini sering kita dengar baik di lingkungan maupun dari media massa.
Remaja adalah individu labil yang emosinya rentan tidak terkontrol oleh pengendalian diri yang benar. Masalah keluarga, kekecewaan, pengetahuan yang minim, dan ajakan teman-teman yang bergaul bebas membuat makin berkurangnya potensi generasi muda Indonesia dalam kemajuan bangsa.

B. Penyebab & Dampak Maraknya Pergaulan Bebas Remaja Indonesia

a. Ada banyak sebab remaja melakukan pergaulan bebas. Penyebab tiap remaja mungkin berbeda tetapi semuanya berakar dari penyebab utama yaitu kurangnya pegangan hidup remaja dalam hal keyakinan/agama dan ketidakstabilan emosi remaja. Hal tersebut menyebabkan perilaku yang tidak terkendali, seperti pergaulan bebas & penggunaan narkoba yang berujung kepada penyakit seperti HIV & AIDS ataupun kematian. Berikut ini di antara penyebab maraknya pergaulan bebas di Indonesia:
- Sikap mental yang tidak sehat
Sikap mental yang tidak sehat membuat banyaknya remaja merasa bangga terhadap pergaulan yang sebenarnya merupakan pergaulan yang tidak sepantasnya, tetapi mereka tidak memahami karena daya pemahaman yang lemah. Dimana ketidakstabilan emosi yang dipacu dengan penganiayaan emosi seperti pembentukan kepribadian yang tidak sewajarnya dikarenakan tindakan keluarga ataupun orang tua yang menolak, acuh tak acuh, menghukum, mengolok-olok, memaksakan kehendak, dan mengajarkan yang salah tanpa dibekali dasar keimanan yang kuat bagi anak, yang nantinya akan membuat mereka merasa tidak nyaman dengan hidup yang mereka biasa jalani sehingga pelarian dari hal tersebut adalah hal berdampak negatif, contohnya dengan adanya pergaulan bebas.
- Pelampiasan rasa kecewa
Yaitu ketika seorang remaja mengalami tekanan dikarenakan kekecewaannya terhadap orang tua yang bersifat otoriter ataupun terlalu membebaskan, sekolah yang memberikan tekanan terus menerus(baik dari segi prestasi untuk remaja yang sering gagal maupun dikarenakan peraturan yang terlalu mengikat), lingkungan masyarakat yang memberikan masalah dalam sosialisasi, sehingga menjadikan remaja sangat labil dalam mengatur emosi, dan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif di sekelilingnya, terutama pergaulan bebas dikarenakan rasa tidak nyaman dalam lingkungan hidupnya.
- Kegagalan remaja menyerap norma
Hal ini disebabkan karena norma-norma yang ada sudah tergeser oleh modernisasi yang sebenarnya adalah westernisasi.



b. Dampak dari pergaulan bebas
Pergaulan bebas identik sekali dengan yang namanya “dugem” (dunia gemerlap). Yang sudah menjadi rahasia umum bahwa di dalamnya marak sekali pemakaian narkoba. Ini identik sekali dengan adanya seks bebas. Yang akhirnya berujung kepada HIV/AIDS. Dan pastinya setelah terkena virus ini kehidupan remaja akan menjadi sangat timpang dari segala segi.

C. Solusi Untuk Menyelesaikan Masalah Pergaulan Bebas
Kita semua mengetahui peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan YME, penyaluran minat dan bakat secara positif merupakan hal-hal yang dapat membuat setiap orang mampu mencapai kesuksesan hidup nantinya. Tetapi walaupun kata-kata tersebut sering ‘didengungkan’ tetap saja masih banyak remaja yang melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan. Selain daripada solusi di atas masih banyak solusi lainnya. Solusi-solusi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Memperbaiki cara pandang dengan mencoba bersikap optimis dan hidup dalam “kenyataan”, maksudnya sebaiknya remaja dididik dari kecil agar tidak memiliki angan-angan yang tidak sesuai dengan kemampuannya sehingga apabila remaja mendapatkan kekecewaan mereka akan mampu menanggapinya dengan positif.
2. Menjaga keseimbangan pola hidup. Yaitu perlunya remaja belajar disiplin dengan mengelola waktu, emosi, energi serta pikiran dengan baik dan bermanfaat, misalnya mengatur waktu dalam kegiatan sehari-hari serta mengisi waktu luang dengan kegiatan positif
3. Jujur pada diri sendiri. Yaitu menyadari pada dasarnya tiap-tiap individu ingin yang terbaik untuk diri masing-masing. Sehingga pergaulan bebas tersebut dapat dihindari. Jadi dengan ini remaja tidak menganiaya emosi dan diri mereka sendiri.
4. Memperbaiki cara berkomunikasi dengan orang lain sehingga terbina hubungan baik dengan masyarakat, untuk memberikan batas diri terhadap kegiatan yang berdampak negatif dapat kita mulai dengan komunikasi yang baik dengan orang-orang di sekeliling kita.
5. Perlunya remaja berpikir untuk masa depan. Jarangnya remaja memikirkan masa depan. Seandainya tiap remaja mampu menanamkan pertanyaan “Apa yang akan terjadi pada diri saya nanti jika saya lalai dalam menyusun langkah untuk menjadi individu yang lebih baik?” kemudian hal itu diiringi dengan tindakan-tindakan positif untuk kemajuan diri para remaja. Dengan itu maka remaja-remaja akan berpikir panjang untuk melakukan hal-hal menyimpang dan akan berkurangnya jumlah remaja yang terkena HIV & AIDS nantinya.

Selain usaha dari diri masing-masing sebenarnya pergaulan bebas dapat dikurangi apabila setiap orang tua dan anggota masyarakat ikut berperan aktif untuk memberikan motivasi positif dan memberikan sarana & prasarana yang dibutuhkan remaja dalam proses keremajaannya sehingga segalanya menjadi bermanfaat dalam kehidupan tiap remaja.